*LOMBOK TENGAH -* Jelang Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak se-Kecamatan Praya Timur yang akan digelar pada tanggal 29 Oktober 2026 mendatang, seruan untuk mewujudkan demokrasi bersih tanpa politik uang kian menguat.
Tidak hanya di Desa Semoyang, seruan ini ditujukan untuk seluruh desa di wilayah Kecamatan Praya Timur yang akan mengikuti kontestasi Pilkades serentak.
Tokoh pemuda Desa Semoyang, Rizqi Adiarta, mengingatkan kepada seluruh calon kepala desa dan masyarakat di seluruh Praya Timur untuk bersama-sama menghentikan praktik politik uang yang kerap menjadi penyakit di setiap momentum pemilihan, baik Pemilu, Pilkada, sampai dengan Pilkades.
Menurutnya, praktik bagi-bagi uang untuk meraih kemenangan merupakan tindakan yang secara nyata mencederai nilai-nilai demokrasi. Politik uang tidak hanya merusak tatanan demokrasi, tetapi juga menghilangkan esensi dari integritas, kejujuran, dan prinsip dalam berpolitik.
“Jika dengan uang kita menang, lalu apa artinya demokrasi yang bersih serta integritas dan prinsip? Kemenangan yang dibeli dengan uang tidak akan pernah melahirkan pemimpin yang amanah. Itu jelas mencederai demokrasi kita,” tegas Rizqi Adiarta, Senin (20/10).
Ia mengajak seluruh calon yang akan bertarung pada Pilkades Serentak 29 Oktober nanti untuk berkompetisi secara sehat, adu gagasan dan program kerja, bukan adu tebalnya amplop. Begitu pula kepada masyarakat se-Kecamatan Praya Timur, agar menjadi pemilih cerdas yang tidak menggadaikan suaranya dengan uang.
“Politik itu harusnya beretika. Mari kita jaga kemurnian demokrasi, bukan hanya di Desa Semoyang, tapi di seluruh desa se-Kecamatan Praya Timur yang ikut Pilkades serentak. Menang kalah itu biasa, tapi cara menang yang terhormat itu yang utama. Saya mengajak semua calon dan masyarakat untuk tetap berpolitik dengan etika,” ajaknya.
Lebih lanjut, Rizqi juga memberikan pesan penting terkait kerukunan sosial di tengah memanasnya suhu politik menjelang Pilkades. Ia menekankan agar masyarakat tidak terjebak dalam fanatisme buta terhadap calon tertentu hingga melupakan ikatan yang paling utama.
Menurutnya, Pilkades adalah pesta demokrasi sesaat, sementara hubungan keluarga dan persaudaraan adalah untuk selamanya. Jangan sampai karena perbedaan pilihan politik, silaturahmi terputus dan hati nurani menjadi mati.
“Saya ingatkan, kerukunan berkeluarga harus lebih diprioritaskan daripada fanatik terhadap calon. Jangan sampai karena politik, ikatan keluarga dan silaturahmi menjadi korban dan nurani kita mati. Beda pilihan itu wajar, tapi persaudaraan harus tetap dijaga. Siapapun yang terpilih nanti tetap saudara kita,” tutupnya.
Ia berharap Pilkades serentak se-Kecamatan Praya Timur pada 29 Oktober 2026 dapat berjalan aman, damai, jujur dan adil tanpa adanya praktik politik uang, sehingga melahirkan pemimpin-pemimpin desa yang benar-benar dicintai dan dipercaya rakyatnya.















