banner 728x250

PBAK FUSA UIN Mataram 2026 Mengusung Tema “RESET NTB”, Dorong Mahasiswa Baru Berpikir Kritis dan Berani Ambil Peran

Mataram, 12 Agustus 2026 — Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama (FUSA) UIN Mataram 2026 digelar dengan mengusung tema “RESET NTB”. Tema tersebut menjadi pesan simbolik yang mengajak mahasiswa baru tidak hanya mengenal lingkungan akademik, tetapi juga membangun keberanian untuk membaca, mengkritisi, dan merespons berbagai persoalan sosial di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Pelaksanaan PBAK pada Rabu, 12 Agustus 2026, menjadi momentum awal bagi mahasiswa baru untuk mengenal kehidupan akademik, organisasi kemahasiswaan, serta nilai-nilai yang menjadi bagian dari identitas FUSA UIN Mataram.

Tema “RESET NTB” menjadi salah satu pesan utama dalam kegiatan tersebut. Kata reset dimaknai sebagai ajakan untuk melakukan pembaruan cara berpikir, membangun kesadaran baru, serta mendorong generasi muda agar berani mengevaluasi berbagai pola lama yang dinilai tidak lagi relevan dengan tantangan zaman.

Dalam konteks mahasiswa, “RESET NTB” dapat dimaknai sebagai upaya membangun kembali kesadaran kritis generasi muda terhadap berbagai persoalan sosial, pendidikan, kebudayaan, ekonomi, politik, hingga tata kelola pemerintahan dan kehidupan masyarakat di NTB.

Mahasiswa tidak hanya ditempatkan sebagai peserta pendidikan formal, tetapi juga sebagai bagian dari kelompok intelektual yang memiliki tanggung jawab sosial. Pengetahuan yang diperoleh di ruang kuliah diharapkan tidak berhenti pada pencapaian akademik, melainkan mampu dikaitkan dengan realitas kehidupan masyarakat.

PBAK FUSA UIN Mataram pun tidak sekadar menjadi agenda seremonial penyambutan mahasiswa baru. Kegiatan tersebut menjadi ruang awal untuk memperkenalkan bahwa kehidupan perguruan tinggi memiliki dimensi akademik sekaligus sosial.

Semangat tersebut sejalan dengan karakter FUSA yang memiliki berbagai disiplin keilmuan berkaitan dengan pemikiran keislaman, sosial, politik, agama, serta kajian Al-Qur’an. Perjumpaan berbagai disiplin keilmuan tersebut diharapkan mampu melahirkan mahasiswa yang kritis, terbuka, reflektif, dan memiliki kepekaan terhadap persoalan masyarakat.

Tulisan “RESET NTB” yang dibentangkan dalam suasana PBAK menjadi simbol bahwa mahasiswa baru datang ke kampus bukan sekadar untuk menjadi bagian dari sistem pendidikan tinggi. Lebih dari itu, mereka dipersiapkan untuk menjadi generasi yang mampu melahirkan gagasan dan mengambil peran dalam menentukan masa depan daerah.

Namun, “reset” bukan berarti menghapus seluruh hal yang telah ada. Reset justru dapat dimaknai sebagai keberanian untuk mengevaluasi, memperbaiki, dan membangun kembali sesuatu yang dinilai perlu diperbarui.

Dalam perspektif tersebut, NTB membutuhkan generasi muda yang mampu melihat berbagai persoalan secara objektif, kritis, dan konstruktif. Kritik tidak berhenti sebagai penolakan, tetapi harus berkembang menjadi gagasan, solusi, dan kerja nyata.

Melalui PBAK FUSA UIN Mataram 2026, mahasiswa baru diharapkan menjadikan momentum pengenalan kampus sebagai titik awal perjalanan intelektual. Mereka tidak hanya dituntut untuk berprestasi secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosial serta keberanian menyampaikan gagasan untuk kemajuan masyarakat.

Pada akhirnya, “RESET NTB” bukan sekadar tulisan di atas spanduk PBAK. Ia menjadi sebuah pesan bahwa perubahan daerah membutuhkan generasi yang berani berpikir ulang, berani bertanya, berani mengkritik, sekaligus berani mengambil peran dalam menentukan arah masa depan NTB.

Dari ruang akademik, kesadaran itu diharapkan tumbuh. Dari mahasiswa, gagasan perubahan diharapkan lahir. Dan dari generasi muda, masa depan NTB dipertaruhkan.