banner 728x250

Menjemput Masa Depan PMII, PKC Bali Nusra Dorong Pemerataan Kaderisasi dan Lahirnya Kader Mujtahid

Mataram, 13 Agustus 2026 — Komitmen memperkuat kualitas dan pemerataan kaderisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) terus dilakukan di tingkat cabang. Hal tersebut terlihat dalam pelaksanaan Pelatihan Kader Lanjut (PKL) VIII PC PMII Kota Mataram yang berlangsung selama lima hari, 9–13 Agustus 2026, bertempat di UPT Asrama Haji Mataram.

Kegiatan kaderisasi formal tersebut diikuti oleh 22 kader PMII, dengan rincian 20 kader dari PC PMII Kota Mataram, satu kader dari PC PMII Buleleng, serta satu kader dari PC PMII Kupang.

Pelaksanaan PKL VIII ini turut mendapatkan pengawalan dari Lalu Syahrul Apriyan, Ketua Kaderisasi PKC PMII Bali Nusra, sebagai bagian dari komitmen struktural untuk memastikan agenda kaderisasi formal berjalan sesuai dengan prinsip, nilai, dan garis perjuangan organisasi.

Dalam keterangannya, Lalu Syahrul Apriyan menegaskan bahwa kaderisasi merupakan jantung organisasi. Karena itu, setiap kader harus memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan proses pendidikan dan pengembangan kapasitas organisasi.

“Setiap kader memiliki hak yang sama untuk mengikuti seluruh agenda kaderisasi. Kami terus mengupayakan agar pemerataan kaderisasi di setiap cabang dapat berjalan dengan baik, termasuk memastikan agenda PKL dapat dilaksanakan secara berkelanjutan,” tegasnya.

Menurut Syahrul, kaderisasi tidak boleh hanya dipahami sebagai agenda seremonial atau sekadar pemenuhan jenjang formal organisasi. Lebih dari itu, kaderisasi harus menjadi ruang pembentukan karakter, intelektualitas, militansi, serta kemampuan kader dalam membaca dan menjawab berbagai persoalan masyarakat.

Ia juga berpesan kepada seluruh peserta PKL VIII agar tetap memegang erat prinsip organisasi dan garis perjuangan PMII dalam menjalankan aktivitasnya, baik di dalam maupun di luar organisasi.

“Jangan sampai proses kaderisasi berhenti setelah pelatihan selesai. Justru setelah mengikuti PKL, tanggung jawab kader semakin besar. Nilai-nilai yang didapatkan harus diterjemahkan menjadi sikap, pemikiran, dan kerja nyata di tengah masyarakat,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya membangun ekosistem kaderisasi yang merata di seluruh cabang PMII Bali Nusra. Menurutnya, kualitas organisasi sangat ditentukan oleh sejauh mana proses kaderisasi mampu melahirkan kader yang memiliki kapasitas keilmuan, integritas, militansi, dan keberpihakan terhadap kepentingan masyarakat.

“Target kita bukan sekadar banyaknya kader yang mengikuti jenjang kaderisasi formal. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana proses tersebut melahirkan kader mujtahid—kader yang mampu berpikir kritis, menggali pengetahuan, membaca realitas, dan menghadirkan solusi atas persoalan zaman,” lanjut Syahrul.

Keikutsertaan kader dari PC PMII Buleleng dan PC PMII Kupang dalam PKL VIII PC PMII Kota Mataram juga menjadi gambaran bahwa kaderisasi PMII tidak berhenti pada batas-batas administratif cabang. Pertukaran pengalaman dan gagasan antarcabang dinilai penting untuk memperkuat jejaring serta memperkaya perspektif kader.

Dengan berakhirnya PKL VIII PC PMII Kota Mataram pada 13 Agustus 2026, proses kaderisasi diharapkan tidak berhenti pada ruang pelatihan. Para kader diharapkan mampu kembali ke basis masing-masing dengan membawa semangat baru untuk menghidupkan organisasi, memperkuat gerakan, dan mengabdikan pengetahuan bagi masyarakat.

PKL VIII menjadi bagian dari ikhtiar bersama PMII Bali Nusra untuk memastikan kaderisasi tidak hanya berjalan, tetapi juga melahirkan kader yang mampu menjaga prinsip organisasi, membaca perubahan zaman, dan bergerak nyata untuk kemaslahatan umat serta bangsa.