banner 728x250

Belajar Wawasan Kebangsaan dari Arena Presean: Luka di Badan, Pelukan di Akhir Pertandingan

Opini : Yogi setiawan

( ketua PC PMII LOTIM 2025-2026)

Bayangkan suara rotan beradu keras dengan perisai kulit sapi. Di tengah terik matahari, dikelilingi penonton yang bersorak-sorai dan iringan musik gamelan yang menghentak, dua pemuda bertelanjang dada saling serang. Mereka mengayunkan tongkat rotan sekuat tenaga, mencoba mencari celah pertahanan lawan.

Sekilas, tradisi Presean dari suku Sasak di Lombok ini terlihat seperti ajang pelampiasan amarah. Tapi tunggu sampai peluit berbunyi dan wasit melerai mereka.

Seketika, raut wajah beringas itu hilang. Rotan diturunkan. Kedua petarung (yang disebut Pepadu) langsung berjalan ke tengah arena, saling melempar senyum, dan berpelukan erat. Tidak ada dendam, tidak ada amarah yang dibawa pulang. Luka cambuk di punggung hanyalah saksi keberanian, bukan alasan untuk saling membenci.

Kalau kita renungkan, arena Presean ini adalah miniatur yang sangat pas untuk menggambarkan bagaimana seharusnya kita mempraktikkan Wawasan Kebangsaan di Indonesia.

Arena Bernama Demokrasi

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kita hidup di satu arena besar bernama Indonesia. Di arena ini, perbedaan pendapat, gesekan politik, dan perdebatan adalah hal yang wajar—sama seperti sabetan tongkat penjalin dalam Presean.

Sebagai warga negara, kita berhak berdebat keras, mengkritik kebijakan, atau mendukung calon pemimpin jagoan kita dengan semangat berapi-api. Kita boleh beradu argumen di media sosial, di warung kopi, atau di gedung parlemen.

Namun, seringkali kita lupa pada bagian terpenting dari pertandingan: kapan harus berhenti dan berpelukan kembali.

Akhir-akhir ini, sabetan “rotan” dalam bentuk hoaks, ujaran kebencian, dan polarisasi politik seringkali meninggalkan luka batin yang tidak kunjung sembuh. Kita lupa bahwa Wawasan Kebangsaan bukanlah tentang menuntut semua orang untuk setuju dan punya pikiran yang sama. Wawasan Kebangsaan adalah kedewasaan untuk menyadari bahwa setelah perdebatan paling sengit sekalipun, kita tetaplah satu keluarga besar.

Perisai Ketahanan Diri

Dalam Presean, setiap petarung dibekali Ende (perisai dari kulit sapi) untuk menangkis serangan. Dalam konteks kebangsaan, Ende kita adalah Pancasila dan toleransi.

Di tengah derasnya arus informasi dan provokasi yang berusaha memecah belah, kita butuh perisai yang kuat. Tanpa perisai toleransi, satu sabetan isu SARA bisa langsung melukai persatuan kita. Wawasan kebangsaan mengajarkan kita untuk tangkas menggunakan perisai ini: menyaring informasi, menahan diri dari menyebarkan kebencian, dan melindungi saudara sebangsa dari ancaman perpecahan.

Tunduk Pada Sang Wasit

Hal lain yang tak kalah menarik dari Presean adalah peran Pekembar (wasit). Sekeras apapun pertarungan, ketika Pekembar memberi isyarat berhenti, kedua Pepadu akan patuh tanpa protes.

Dalam negara yang berwawasan kebangsaan, Pekembar kita adalah hukum dan konstitusi. Kedewasaan sebuah bangsa diuji ketika kita mau tunduk pada aturan main bersama, terlepas dari siapa yang menang atau kalah. Kalau kita sudah tidak percaya lagi pada “wasit” dan aturan main, arena pertandingan akan berubah menjadi kerusuhan massal.

Wawasan Kebangsaan tidak akan pernah tumbuh hanya dengan menghafal nama-nama pahlawan atau butir-butir Pancasila menjelang ujian. Ia harus hidup dalam sikap kita sehari-hari.

Tradisi Presean dari Lombok mengirimkan pesan yang sangat jelas untuk kita semua: Jadilah ksatria di dalam arena, tapi jadilah saudara di luar arena. Perbedaan pandangan politik atau latar belakang biarkan saja menjadi “sabetan rotan” yang menguji ketangguhan kita sebagai bangsa. Namun di penghujung hari, kita harus selalu siap meletakkan ego kita, melangkah ke tengah, dan saling berpelukan kembali sebagai sesama orang Indonesia.

 

Bayangkan suara rotan beradu keras dengan perisai kulit sapi. Di tengah terik matahari, dikelilingi penonton yang bersorak-sorai dan iringan musik gamelan yang menghentak, dua pemuda bertelanjang dada saling serang. Mereka mengayunkan tongkat rotan sekuat tenaga, mencoba mencari celah pertahanan lawan.

 

Sekilas, tradisi Presean dari suku Sasak di Lombok ini terlihat seperti ajang pelampiasan amarah. Tapi tunggu sampai peluit berbunyi dan wasit melerai mereka.

 

 

Seketika, raut wajah beringas itu hilang. Rotan diturunkan. Kedua petarung (yang disebut Pepadu) langsung berjalan ke tengah arena, saling melempar senyum, dan berpelukan erat. Tidak ada dendam, tidak ada amarah yang dibawa pulang. Luka cambuk di punggung hanyalah saksi keberanian, bukan alasan untuk saling membenci.

 

Kalau kita renungkan, arena Presean ini adalah miniatur yang sangat pas untuk menggambarkan bagaimana seharusnya kita mempraktikkan Wawasan Kebangsaan di Indonesia.

 

 

Arena Bernama Demokrasi

 

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kita hidup di satu arena besar bernama Indonesia. Di arena ini, perbedaan pendapat, gesekan politik, dan perdebatan adalah hal yang wajar—sama seperti sabetan tongkat penjalin dalam Presean.

 

Sebagai warga negara, kita berhak berdebat keras, mengkritik kebijakan, atau mendukung calon pemimpin jagoan kita dengan semangat berapi-api. Kita boleh beradu argumen di media sosial, di warung kopi, atau di gedung parlemen.

 

Namun, seringkali kita lupa pada bagian terpenting dari pertandingan: kapan harus berhenti dan berpelukan kembali.

 

Akhir-akhir ini, sabetan “rotan” dalam bentuk hoaks, ujaran kebencian, dan polarisasi politik seringkali meninggalkan luka batin yang tidak kunjung sembuh. Kita lupa bahwa Wawasan Kebangsaan bukanlah tentang menuntut semua orang untuk setuju dan punya pikiran yang sama. Wawasan Kebangsaan adalah kedewasaan untuk menyadari bahwa setelah perdebatan paling sengit sekalipun, kita tetaplah satu keluarga besar.

 

 

Perisai Ketahanan Diri

 

Dalam Presean, setiap petarung dibekali Ende (perisai dari kulit sapi) untuk menangkis serangan. Dalam konteks kebangsaan, Ende kita adalah Pancasila dan toleransi.

 

Di tengah derasnya arus informasi dan provokasi yang berusaha memecah belah, kita butuh perisai yang kuat. Tanpa perisai toleransi, satu sabetan isu SARA bisa langsung melukai persatuan kita. Wawasan kebangsaan mengajarkan kita untuk tangkas menggunakan perisai ini: menyaring informasi, menahan diri dari menyebarkan kebencian, dan melindungi saudara sebangsa dari ancaman perpecahan.

 

 

Tunduk Pada Sang Wasit

 

Hal lain yang tak kalah menarik dari Presean adalah peran Pekembar (wasit). Sekeras apapun pertarungan, ketika Pekembar memberi isyarat berhenti, kedua Pepadu akan patuh tanpa protes.

 

Dalam negara yang berwawasan kebangsaan, Pekembar kita adalah hukum dan konstitusi. Kedewasaan sebuah bangsa diuji ketika kita mau tunduk pada aturan main bersama, terlepas dari siapa yang menang atau kalah. Kalau kita sudah tidak percaya lagi pada “wasit” dan aturan main, arena pertandingan akan berubah menjadi kerusuhan massal.

 

Wawasan Kebangsaan tidak akan pernah tumbuh hanya dengan menghafal nama-nama pahlawan atau butir-butir Pancasila menjelang ujian. Ia harus hidup dalam sikap kita sehari-hari.

 

Tradisi Presean dari Lombok mengirimkan pesan yang sangat jelas untuk kita semua: Jadilah ksatria di dalam arena, tapi jadilah saudara di luar arena. Perbedaan pandangan politik atau latar belakang biarkan saja menjadi “sabetan rotan” yang menguji ketangguhan kita sebagai bangsa. Namun di penghujung hari, kita harus selalu siap meletakkan ego kita, melangkah ke tengah, dan saling berpelukan kembali sebagai sesama orang Indonesia.