Kiprah pemuda asal desa kembali mencuri perhatian di panggung organisasi kepemudaan. Lalu Renggi Hasbana Saputra menyatakan kesiapannya untuk mencalonkan diri sebagai Ketua DPD II Komite Nasional Pemuda Indonesia Kota Mataram. Tekad tersebut lahir dari perjalanan panjangnya membangun gerakan pemuda dari desa hingga
merambah ruang-ruang inovasi di perkotaan.
Renggi dikenal sebagai sosok yang tumbuh dari lingkungan sederhana di desa, dengan semangat belajar dan kepedulian sosial yang kuat sejak muda. Ia aktif menggerakkan kegiatan kepemudaan, mulai dari pelatihan kewirausahaan, advokasi pendidikan, hingga penguatan peran pemuda dalam pembangunan lokal. Baginya, desa bukanlah keterbatasan, melainkan fondasi nilai dan karakter kepemimpinan.
Perjalanan ke Kota Mataram menjadi titik penting dalam hidupnya. Di kota ini, Renggi memperluas jaringan, memperkenalkan gagasan kolaborasi pemuda desa–kota, serta mendorong pemanfaatan teknologi dan kreativitas sebagai kekuatan baru generasi muda. Ia menilai, kota yang maju harus dibangun dengan semangat inklusif, memberi ruang bagi pemuda dari berbagai latar belakang untuk berkontribusi.
Dalam pernyataannya, Renggi menegaskan bahwa pencalonannya bukan sekadar ambisi jabatan, tetapi bagian dari komitmen menghadirkan KNPI sebagai rumah besar pemuda yang progresif, inovatif, dan dekat dengan persoalan masyarakat. Ia ingin mendorong program kepemudaan yang lebih adaptif terhadap perkembangan zaman, sekaligus tetap berpijak pada nilai gotong royong dan kearifan lokal.
“Pemuda desa punya mimpi besar, dan kota adalah ruang untuk mewujudkannya. Saya ingin KNPI menjadi jembatan yang mempertemukan potensi itu,” ujarnya.
Dengan latar belakang pengalaman organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia ( PMII) Mataram , jejaring sosial yang luas, serta visi pembangunan pemuda yang inklusif, Renggi optimistis dapat membawa energi baru bagi KNPI Kota Mataram. Kisahnya menjadi bukti bahwa perjalanan dari desa menuju kota bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi transformasi gagasan menuju perubahan nyata.















