Terlahir Kecil Tak Apa, Asal Mimpi Setinggi Langit
Oleh: Habib Ansori (Bal’on) Ketua PK IPNU Universitas Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat
Banyak orang mengukur kekuatan dari apa yang terlihat oleh mata. Tinggi badan, tegapnya bahu, atau besarnya otot seringkali dijadikan tolok ukur kapasitas seseorang. Saya, Habib Ansori—yang oleh teman-teman akrab disapa Bal’on—lahir dengan fisik yang mungkin tidak setinggi kawan-kawan sebaya. Namun, jika ada satu hal yang saya pelajari selama berproses di dunia aktivis dan akademik, itu adalah: Dunia tidak melihat seberapa tinggi fisikmu, tapi seberapa besar dampak yang kamu berikan.
Keterbatasan Bukanlah Penghalang
Menerima sebutan “Bal’on” bukan berarti saya menerima kelemahan. Sebaliknya, bagi saya, nama itu adalah pengingat bahwa meskipun terlihat kecil atau ringan, sebuah balon memiliki kemampuan untuk terbang tinggi menembus awan jika diisi dengan gas yang tepat. Begitu juga dengan manusia. Jika hati dan pikiran kita diisi dengan ilmu, tekad, dan keikhlasan, tidak ada batasan fisik yang mampu menahan kita untuk mencapai langit cita-cita.
Kuliah di Universitas Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat (UNU NTB) membuka mata saya bahwa nilai seorang manusia terletak pada kemampuannya menebar manfaat (khairunnas anfa’uhum linnas). Di kampus hijau ini, saya belajar bahwa keberanian tidak tumbuh dari tinggi badan, melainkan dari kedalaman keyakinan.
Berkhidmat Melalui IPNU
Amanah yang saya emban saat ini sebagai Ketua Komisariat IPNU UNU NTB adalah bukti nyata bahwa kepercayaan tidak datang karena penampilan fisik. Kepemimpinan adalah soal integritas, komunikasi, dan semangat untuk melayani. Di IPNU, saya tidak hanya belajar berorganisasi, tetapi belajar bagaimana menjadi “pelayan” bagi rekan-rekan pelajar lainnya.
Bagi saya, organisasi adalah wadah untuk membuktikan bahwa pemuda bertubuh kecil pun bisa memiliki suara yang lantang dalam memperjuangkan nilai-nilai keaswajaan dan kebangsaan. Saya ingin menunjukkan kepada dunia bahwa:
Mimpi tidak memiliki batas dimensi. Ia tidak butuh ruang yang luas, ia hanya butuh tekad yang keras.
Bermanfaat bagi sesama adalah tujuan utama. Jabatan hanyalah alat, namun pengabdian adalah napas.
Pesan untuk Sesama Pemuda
Untuk kawan-kawanku yang mungkin merasa rendah diri karena kekurangan fisik atau latar belakang ekonomi: Jangan pernah mengerdilkan mimpimu sendiri. Jika dunia meremehkanmu karena fisikmu yang kecil, balaslah dengan prestasi yang besar.
Terlahir kecil itu takdir, tapi tumbuh menjadi sosok yang bermanfaat adalah pilihan. Saya memilih untuk terus terbang tinggi seperti nama panggilan saya, membawa bendera IPNU dan almamater UNU NTB menuju puncak kebermanfaatan.
Sebab pada akhirnya, yang akan diingat sejarah bukanlah seberapa tinggi badan kita saat berdiri, melainkan seberapa tinggi mimpi yang kita perjuangkan dan seberapa banyak tangan yang kita bantu saat kita berada di atas.















